SKRIPSI KEDOKTERAN

Aug 8, 2008   //   by joseph   //   Blog  //  No Comments

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP PERILAKU KUNJUNGAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN DI PUSKESMAS RAWAT INAP KEDATON

ABSTRAK

Oleh

Ferdi Firdiansyah

Masalah kesehatan ibu dan anak merupakan masalah nasional yang perlu mendapatkan prioritas utama khususnya bagi ibu hamil. Masa kehamilan ini merupakan masa yang berbahaya bagi bayi/balita karena terdapat risiko infeksi yang lebih tinggi selama proses ini, dan sebaiknya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan sejak ibu merasa hamil. Selain itu, pengetahuan yang baik serta sikap yang mendukung merupakan salah satu faktor yang berhubungan terhadap perilaku,untuk melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Maka penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap perilaku kunjungan pemeriksaan kehamilan. Hipotesis yang diajukan ialah adanya hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap perilaku kunjungan pemeriksaan kehamilan.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, menggunakan data primer dari wawancara terpimpin dengan kuisioner serta data sekunder dari rekam medik (keadaan sehat ibu hamil). Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Rawat Inap Kedaton Bandar Lampung pada tanggal 28 November 2007 – 10 Januari 2008. Populasi penelitian ialah seluruh ibu hamil yang berkunjung di Puskesmas Rawat Inap Kedaton Bandar Lampung dengan kriteria inklusi: mulai dari ibu hamil yang berada di wilayah kerja puskesmas, sampai ibu hamil dengan keadaan normal dengan umur kehamilan trimester III. Semua populasi yang telah memenuhi kriteria inklusi digunakan sebagai sampel, sehingga diperoleh sampel sebanyak 106 orang. Analisis data secara bivariat menggunakan uji statistik Chi Square dan uji korelasi Koefisien Kontingensi dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengetahuan ibu hamil dari seluruh sampel paling banyak memiliki pengetahuan yang baik, yaitu sebanyak 58 orang (54,7%). Sikap Ibu hamil dari seluruh sampel, memperlihatkan sikap yang mendukung sebanyak 51 orang (48,1%), sedangkan perilaku kunjungan pemeriksaan ibu hamil yang tinggi sebanyak 61 orang (57,5%). Uji statistik memperlihatkan bahwa adanya hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil terhadap Perilaku Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan

Kata kunci : Pengetahuan ibu hamil, Sikap ibu hamil, Perilaku kunjungan pemeriksaan kehamilan

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah

MIKROORGANISME PENYEBAB INFEKSI PARU NON tuberkulosis dan kepekaannya terhadap beberapa antibiotika di laboratorium mikrobiologi

abstraks:

Penyakit infeksi paru merupakan masalah kesehatan yang sering dihadapi. Penegakkan diagnosa secara cepat dan tepat serta pemilihan antibiotika berdasarkan uji kepekaan akan sangat membantu dalam pelaksanaan dan terapi. Diperlukan pengetahuan dan pengalaman tentang kuman-kuman penyebab infeksi paru dan kepekaannya terhadap beberapa antibiotika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran mikroorganisme penyebab infeksi paru non tuberkulosis dan pola kepekaannya terhadap beberapa antibiotika.

Sebuah penelitian deskriptif retrospektif telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi RS Dr. M. Djamil Padang. Data diperoleh dari hasil pemeriksaan mikrobiologis penderita infeksi paru non tuberkulosis di Laboratorium Mikrobiologi RS Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2006.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 85 permintaan pemeriksaan mikrobiologis yang mencantumkan diagnosis klinis sebagai infeksi paru non tuberkulosis, sebagian besar ditegakkan diagnosis sebagai bronkopneumonia ( 69,42 % ), bronkitis kronik ( 20 % ), bronkiektasis ( 4,7 % ), bronkitis akut ( 3,53 % ) dan abses paru ( 2,35 % ). Dari hasil kultur kuman dapat ditemukan dan diidentifikasikan sebagai kuman penyebab yang utama adalah Streptococcus pneumoniae ( 57,14 % ), diikuti Klebsiella pneumoniae ( 30,62 % ), Staphylococcus aureus ( 6,12 % ), Pseudomonas sp. ( 4,08 % ), dan Proteus sp. ( 2,04 % ). Pola kepekaan kuman-kuman penyebab infeksi paru non tuberkulosis menunjukkan kepekaan yang rendah terhadap obat-obat antibiotika standar, kecuali chloramphenicol yang masih sensitif untuk beberapa kuman tertentu. Adapun untuk obat-obat antibiotika baru seperti meropenem, cefotaxim, sulbactam, dan ciprofloxacin masih memiliki kepekaan yang tinggi.

Kuman-kuman penyebab infeksi paru sudah menunjukkan derajat resistensi yang meningkat terhadap antibiotika standar. Maka sebaiknya digunakan antibiotika generasi baru pada penderita infeksi paru non TB sehingga dapat dihindari pemborosan waktu dan biaya pengobatan.

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Penyakit infeksi paru merupakan penyakit infeksi yang paling sering ditemukan dimasyarakat maupun yang dirawat di rumah sakit, dan masih merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Penyakit infeksi paru berkisar 60-80 % dari seluruh penyakit paru, sedangkan sisanya 20-40 % adalah penyakit non infeksi (Tjandra, 2001).

Pengaruh Teknik Relaksasi Bernafas Terhadap Respon Adaptasi Nyeri Pada Pasien Inpartu Kala I

abstraks:

Setiap tahun lebih dari 200 juta wanita hamil. Sebagian besar kehamilan berakhir dengan kelahiran bayi hidup pada ibu yang sehat walaupun demikian, pada beberapa kasus kelahiran bukanlah peristiwa membahagiakan tetapi menjadi suatu masa yang penuh dengan rasa nyeri, rasa takut, penderitaan dan bahkan kematian (WHO, 2003).
Rasa nyeri pada persalinan dalam halini adalah nyeri kontraksi uterus yang dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, peruabahan tekanan darah, denyut jantung, pernafasan dengan warna kulit dan apabila tidak segera diatas I maka akan meningkatkan rasa khawatir, tegang, takut dan stress (Bobak, 2004).Nyeri persalinan dapat mempengaruhi kontraksi uterus melalui sekresi kadar katekolamia dan kartisol yang menaikkan dan akibatnya mempengaruhi durasi persalinan. Nyeri juga dapat menyebabkan aktivitas uterus yang tidak terkoordinasi yang akan mengakibatkan persalinan lama. Adapun nyeri persalinan yang berat dan lama dapat mempengharuhi sverifikasi sirkulasi maupun metabolisme yang harus segera diatasi karma dapat menyebabkan kematian gania (Rosemary Mander, 2003).

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melaluiu tercitpanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduk yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seuruh wilayah Republik Indonesia.

PENILAIAN STANDAR PELAYANAN RUMAH SAKIT MELALUI KEPATUHAN PROSEDUR KERJA DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

abstraks:

Peningkatan standar pelayanan kesehatan dari RSGM FKG Universitas Jember dibutuhkan agar RSGM memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku. Penelitian tentang penilaian standar pelayanan rumah sakit melalui kepatuhan prosedur kerja dilakukan di RSGM FKG Universitas Jember untuk mengetahui standar pelayanan rumah sakit yang diukur dari kepatuhan prosedur kerja yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat profesi FKG Universitas Jember dalam melakukan perawatan pulpektomi pada Laboratorium Konservasi Gigi, perawatan ekstraksi gigi pada Laboratorium Bedah Mulut, perawatan pembersihan karang gigi (scalling) pada Laboratorium Periodonsia dan perawatan ulkus traumatikus pada Laboratorium Oral Medicine (OM)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sehat adalah keadaan sejahtera, baik dari segi badan, mental spiritual (dirinya sendiri) maupun segi sosial budaya (lingkungannya). Sehat merupakan kehendak semua pihak, tidak hanya oleh perorangan, tetapi oleh keluarga, kelompok dan masyarakat. Keadaan sehat membutuhkan banyak hal, salah satu diantaranya adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan (Azwar, 1996).

MIKROORGANISME PENYEBAB INFEKSI PARU NON TUBERKULOSIS DAN KEPEKAANYA TERHADAP BEBERAPA ANTIBIOTIKA DI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI RS DR. M. DJAMIL PADANG PADA TAHUN 2006

abstract

OLEH:

RAMADHANIATI

Penyakit infeksi paru merupakan masalah kesehatan yang sering dihadapi. Penegakkan diagnosa secara cepat dan tepat serta pemilihan antibiotika berdasarkan uji kepekaan akan sangat membantu dalam pelaksanaan dan terapi. Diperlukan pengetahuan dan pengalaman tentang kuman-kuman penyebab infeksi paru dan kepekaannya terhadap beberapa antibiotika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran mikroorganisme penyebab infeksi paru non tuberkulosis dan pola kepekaannya terhadap beberapa antibiotika.

Sebuah penelitian deskriptif retrospektif telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi RS Dr. M. Djamil Padang. Data diperoleh dari hasil pemeriksaan mikrobiologis penderita infeksi paru non tuberkulosis di Laboratorium Mikrobiologi RS Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2006.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 85 permintaan pemeriksaan mikrobiologis yang mencantumkan diagnosis klinis sebagai infeksi paru non tuberkulosis, sebagian besar ditegakkan diagnosis sebagai bronkopneumonia ( 69,42 % ), bronkitis kronik ( 20 % ), bronkiektasis ( 4,7 % ), bronkitis akut ( 3,53 % ) dan abses paru ( 2,35 % ). Dari hasil kultur kuman dapat ditemukan dan diidentifikasikan sebagai kuman penyebab yang utama adalah Streptococcus pneumoniae ( 57,14 % ), diikuti Klebsiella pneumoniae ( 30,62 % ), Staphylococcus aureus ( 6,12 % ), Pseudomonas sp. ( 4,08 % ), dan Proteus sp. ( 2,04 % ). Pola kepekaan kuman-kuman penyebab infeksi paru non tuberkulosis menunjukkan kepekaan yang rendah terhadap obat-obat antibiotika standar, kecuali chloramphenicol yang masih sensitif untuk beberapa kuman tertentu. Adapun untuk obat-obat antibiotika baru seperti meropenem, cefotaxim, sulbactam, dan ciprofloxacin masih memiliki kepekaan yang tinggi.

Kuman-kuman penyebab infeksi paru sudah menunjukkan derajat resistensi yang meningkat terhadap antibiotika standar. Maka sebaiknya digunakan antibiotika generasi baru pada penderita infeksi paru non TB sehingga dapat dihindari pemborosan waktu dan biaya pengobatan.

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Penyakit infeksi paru merupakan penyakit infeksi yang paling sering ditemukan dimasyarakat maupun yang dirawat di rumah sakit, dan masih merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Penyakit infeksi paru berkisar 60-80 % dari seluruh penyakit paru, sedangkan sisanya 20-40 % adalah penyakit non infeksi (Tjandra, 2001).

DAYA HAMBAT VITAMIN C TERHADAP KERUSAKAN MEMBRAN SEL DARAH MERAH AKIBAT FOTOSENSITISER OFLOKSASIN YANG DIINDUKSI ULTRAVIOLET

abstraks:

Ofloksasin merupakan derivat flouroquinolon yang memiliki efektivitas dan spektrum yang luas sebagai antibiotik, namun ofloksasin juga dapat berperan sebagai fotosensitiser sehingga menyebabkan fotohemolisis. Untuk dapat menghambatnya digunakan vitamin C. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh vitamin C sebagai penghambat fotohemolisis akibat fotosensitiser ofloksasin yang diinduksi sinar ultraviolet (UV). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan empat l sel darah merah yang dimasukkan kemkelompok perlakuan, yaitu P0=10 dalam kotak tanpa radiasi UV. P1 = Kelompok yang di dalam tabung berisi l sel darah merah dengan penyinaran radiasi UV. P2 = Kelompok yangm10 l sel darah merah, 1 ml ofloksasin denganmdi dalam tabung berisi 10 lmpenyinaran radiasi UV. P3 = Kelompok yang di dalam tabung berisi 10 l vitamin C dengan penyinaranmsel darah merah, 1 ml ofloksasin dan 1 radiasi UV. Pengukuran hemolisis sel darah merah menggunakan metode = 546 nm. Berdasarkan uji statistiklspektrofotometri yang diukur pada ini disimpulkan bahwa vitamin C mempunyai peran dalam menghambat fotohemolisis akibat fotosensitiser ofloksasin yang diinduksi sinar UV.

KATA KUNCI : Fotosensitiser, ofloksasin, vitamin C, hemoglobin.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Fotosensitisasi adalah reaktivitas suatu senyawa sensitiser terhadap substrat biologis akibat sinar buatan atau sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet. Apabila substrat biologis tersebut berupa membran sel darah merah hingga menyebabkan lisis, maka proses tersebut dinamakan fotohemolisis (1,2).

HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAYA TAHAN KARDIORESPIRASI SISWA-SISWI SMA 2 PAYAKUMBUH

abstraks:

Kesegaran jasmani seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni, faktor internal dan faktor eksternal. Yang dimaksud faktor internal adalah sesuatu yang sudah terdapat dalam tubuh seseorang yang bersifat menetap misalnya genetik, umur, jenis kelemin. Sedangkan faktor eksternal diantaranya aktivitas fisik, lingkungan dan kebiasaan merokok (Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas, 1994; Abdullah, 1994).

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sehat adalah kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia (Ichsan, 1988). Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif dan ekonomis (UU No.23 1992).
Kepentingan kesegaran jasmani dalam pemeliharaan kesehatan tidak diragukan lagi, semakin tinggi tingkat kesehatan, maka kesegaran jasmani akan semakin baik pula (Yasrin, 1996). Manusia yang sehat dan memiliki tingkat kesegaran yang baik akan mampu berprestasi dalam pekerjaan sehingga tingkat produktivitas akan meningkat (Pradono, 1999).

Leave a comment




HOSTING MURAH