skripsi biologi

Aug 6, 2008   //   by joseph   //   Blog  //  1 Comment

JENIS TANAMAN OBAT DI PELARANGAN PENDUDUK DESA KANDANG ACEH SELATAN

abstraks:

Membudidayakan berbagai tanaman dalam rangka mewujudkan apotik hidup yang dapat dikembangkan pada lahan-lahan pekarangan rumah atau dalam mengembangkannya pada sebidang tanah yang khusus diperuntukkan tanaman-tanaman yang dapat digunakan untuk dikonsumsi, seperti sayur, buah-buahan atau tanaman yang berkhasiat obat-obatan, tanaman ini perlu pengelolaan yang baik, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tanaman obat apa saja yang terdapat di pekarangan penduduk desa Kandang. Kegiatan penelitian dilakukan pada tanggal 7-10 Februari 2007. Sampel yang diteliti adalah 63 rumah yang ada pekarangan dan menanam tanaman obat, pengolahan data dilakukan dengan metode deskriptif yaitu menentukan jenis tanaman obat. Hasil penelitian bahwa jenis tanaman obat yang sudah dikenal oleh masyarakat Desa Kandang 21 jenis. Tanaman obat yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Kandang adalah 14 jenis. Kesimpulannya adalah masyarakat belum sepenuhnya memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai jenis tanaman obat, karena masih banyak tanaman obat yang belum ditemukan di pekarangan rumah penduduk.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Perbandingan Kualitas Koji Asal Edamame dan Kedelai Lokal Menggunakan Aspergillus sojae

abstraks:

(The Quality Comparasion Between Kojic From Edamame and Local Bean Using
Aspergillus sojae)

Telah diteliti perbandingan kualitas koji asal edamame dan kemungkinannya digunakan untuk bahan baku kecap. Kualitas koji edamame dibandingkan dengan koji kedelai lokal. Inokulum yang digunakan dalam fermentasi koji adalah Aspergillus sojae. Parameter yang diamati meliputi sifat kimia terdiri dari kadar protein terlarut, total padatan terlarut, kadar total asam, derajat keasaman (pH) dan penghitungan Jumlah jamur. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri atas dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor A yaitu jenis kedelai terdiri dari kedelai edamame dan lokal, sedangkan faktor B yaitu lama fermentasi terdiri dari 0 sampai 4 hari. Hasil penelitian menunjukkan jumlah protein terlarut koji kedelai lokal sebesar 0,298 gr sedangkan koji edamame sebesar
0,176 gr. Total asam koji kedelai lokal sebesar 2,64% sedangkan koji edamame sebesar 1,38 % dan total jamur untuk kedelai lokal sebesar 1,8 x 108 cfu/gr sedangkan pada koji edamame sebesar 1,5 x 108 cfu/gr. Kualitas koji kedelai lokal lebih baik dibandingkan dengan koji edamame.

Kata kunci: Koji, edamame, kedelai lokal, Aspergillus sojae

PENDAHULUAN

Koji merupakan salah satu tahapan pada proses pembuatan kecap yang memanfaatkan jamur. Berbagai bahan dasar dapat digunakan dalam pembuatan koji, antara lain biji kecipir, koro benguk, atau lamtoro dan yang sangat terkenal terbuat dari kedelai hitam/putih. Bahan lain yang belum biasa digunakan untuk koji adalah edamame. Edamame merupakan salah satu jenis kedelai yang memiliki komposisi zat makanan lebih lengkap dibandingkan dengan kedelai lokal.

Efektivitas Bakteri Pelarut Fosfat dan Pupuk P terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) pada Tanah Masam

abstraks:

The acid soil that is having low pH was a problem that often found in the soils at the humid tropics district includes Indonesia. Acid mineral soils constitude 127,3 million ha of Indonesia’s land area. However before used for this aim necessary to take notice of several constrain that to be found in the acid soil. The main constrain of acid mineral soil is Al, Fe and Mn toxicity. While the efficiency of very low phosphate fertilizing (± 10 – 15%) to such P fertilizer given caused by Al, Fe and Mn fixation. The aim of this research is to study effectivity of phosphate-solubilizing bacteria (BPF) and P fertilizer on the growth of maize (Zea mays L.) in an acid soil. This experiment was arranged factorial randomized complete design with 3 replicates. The treatments tested were combinations of BPF isolate; BPF isolate of without isolate (I0), P. putida (I1), P. aeruginosa (I2) and combination of P. putida
and P. aeruginosa (I3), and P fertilizer consist of without P fertilizer (P0), SP-36 fertilizer (P1) and rock phosphate fertilizer (P2). The results of this experiment showed that P. putida, P. aeruginosa isolate and (P. putida and P. aeruginosa) mixing with both SP-36 fertilizer and rock phosphate can increase P content in the shoot, although its increasing no significant, the use of rock phosphate without BPF isolate can increase P content in the shoot. Combination of P. putida with SP-36 (P1I1) and P. aeruginosa with SP-36 (P1I2) to the increase the plant height 10 days after planting. The treatment BPF with fertilizer and without P fertilizer decrease of the fresh weight of shoot, but can increase dry weight of shoot. Fresh weight of root increased with SP-36 fertilizer and P. putida, while leaf area can increased with P.
putida combined with SP-36 and rock phosphate. It’s shows that BPF treatment can increase the growth of plant in the acid soil. P. putida more effective than P. aeruginosa or combination of it. P fertilizer treatment can increase the growth at the plant height parameter and P content in the shoot. The treatment of P fertilizer combine with BPF to increase the growth at dry weight of shoot parameter with the same a good influence for all combination treatment.

Key word: effectivity, phosphate-solubilizing bacteria, growth, acid soil

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tanah masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah, termasuk Indonesia. Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik, ultisol, oxisols dan spodosol, masing-masing sekitar 47,5, 18,4, 5,0 dan 56,4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi, dkk., 1996). Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian, tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.

Perbandingan Kualitas Moromi Kedelai Edamame dan Moromi Kedelai Lokal Menggunakan Kultur Tunggal Lactobacillus delbrueckii FNCC-

abstraks:

(The Quality Comparison between Edamame Soybean Moromies and Local Soybean Moromies used Single Culture Lactobacillus delbrueckii FNCC-045)
Telah dilakukan penelitian perbandingan kualitas moromi kedelai
edamame dan moromi kedelai lokal menggunakan kultur tunggal L. delbrueckii
FNCC-045. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas moromi kedelai
edamame dan kedelai lokal menggunakan kultur tunggal bakteri L. delbrueckii
yang didasarkan pada analisis protein terlarut, total padatan terlarut, total asam
dan pH. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap. Hasil
penelitian ini didapatkan bahwa nilai protein terlarut, total padatan terlarut, total
asam dan pH pada minggu ke-2 sampai minggu ke-4 tidak berbeda nyata. Nilai
untuk protein terlarut moromi kedelai edamame sebesar 0,42% dan moromi
kedelai lokal sebesar 0,35%, total padatan terlarut untuk moromi kedelai
edamame sebesar 19,20% dan moromi kedelai lokal sebesar 18,40%, total asam
untuk moromi kedelai edamame sebesar 1,797% dan moromi kedelai lokal
sebesar 1,653% dan pH untuk moromi kedelai edamame sebesar 6,5 dan moromi
kedelai lokal sebesar 6,21. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas
moromi dengan menggunakan kedelai edamame sama baiknya dengan
menggunakan kedelai lokal.
Kata kunci : Bakteri L. delbrueckii, kedelai edamame, moromi
ABSTRACT
It was researched about quality comparison between edamame soybean
moromies and local soybean moromies used single culture Lactobacillus
delbrueckii FNCC-045. This research aims are know about moromies quality of
edamame soybean and local soybean used single cultures L. delbrueckii that based
on the soluble protein analysis, total suspended solid matter, total acid and degree
of acidity (pH). The research used completly rendemized design method. The
result are soluble protein value, total suspended solid matter, total acid and pH at
second week to fourth week undifferent real. Value for soluble protein edamame
soybean moromies is 0,42% and local soybean moromies is 0,35%, total
suspended solid matter for edamame soybean moromies is 19,20% and local
soybean moromies is 18,40%, total acid for edamame soybean moromies is
1,797% and local soybean moromies is 1,653% and pH for edamame soybean
moromies is 6,5 and local soybean moromies is 6,21. So it can concluded that
moromies quality which is used edamame soybean as good as local soybean .
Key words : Bacteria L. delbrueckii , edamame soybean, moromies

PENDAHULUAN
Kedelai di Indonesia digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kecap
yang oleh masyarakat digunakan sebagai bahan penyedap masakan. Pada
umumnya masyarakat sering menggunakan kedelai lokal untuk membuat kecap,
namun ada salah satu jenis kedelai lain (memiliki komposisi kandungan zat
makanan sedikit berbeda dibandingkan kedelai lokal) yaitu kedelai edamame.
Keunggulan kedelai edamame adalah memiliki rasa yang enak, renyah, gurih,
tidak langu, disukai oleh konsumen, bentuk dan ukuran besar dan mempunyai

STUDI POLA PENYEBARAN TUMBUHAN SUKU ASTERACEAE PADA ZONA DATAR DAN ZONA MIRING

abstraks:

STUDI POLA PENYEBARAN TUMBUHAN SUKU ASTERACEAE PADA ZONA DATAR DAN ZONA MIRING
DI KAWASAN COBAN RONDO KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG
Kata kunci : Studi Pola Penyebaran, Asteraceae, Coban Rondo.

Tumbuhan suku Asteraceae atau sembung-sembungan merupakan kelompok yang terdiri dari 1.100 marga yang meliputi 20.000 spesies, suku Asteraceae memiliki multi fungsi antara lain dari segi ekonomi yaitu sebagai tanaman hias, sayur, dan obat. dikaji dari aspek ekologi mempunyai peranan yang penting menjaga keseimbangan ekosistem yang terdapat dikawasan Coban Rondo.

Penilitian ini bersifat deskriptif eksploratif yang dilakukan pada 15 Mei – 15 Juli 2006. sampel penelitian ini adalah tumbuhan suku Asteraceae yang terdapat di kawasan Coban Rondo, pada ketinggian 1200 m dpl. Dengan luas 80 hektar dengan curah hujan 1721 mm/tahun dan suhu berkisar 22 – 240C. Lokasi pengambilan sampel dibagi dua wilayah yaitu zona datar dan zona miring, dengan membuat plot berukuran 2×2 m2 sebayak 50. Data yang diperoleh berupa frekuensi, kepadatan, luas penutup, Indek Nilai Penting (INP), dan Indek Morisita.

Leave a comment




HOSTING MURAH